Tampilkan postingan dengan label madura. Tampilkan semua postingan

NASKAH PRAHARA HATI SANG RATO EBHU




   NASKAH PRAHARA HATI SANG RATO EBHU
Oleh Kikana Rahman
PROLOG AWAL
Sejarah Kerajaan Madura Barat, meliputi wilayah Sampang dan Bangkalan,  yang di pegang oleh Cakraningrat I bermula dari sebuah kota kecil di pulau Madura .... Madegan, sebuah kampung yang berada di pinggiran Kota Sampang. Tempat yang menjadi Saksi Bisu dimana Kamituwo dari Para Cakraningrat itu berada .... dan tempat itu pulalah yang menjadi kota Raja dari Kerajaan Madura barat ... tempat bersejarah dimana kerajaan Madura barat di bangun pertama kali serta sejarah besar dimulainya Kepemerintahan berstruktur Kabupaten Sampang.
Bermula dari dua putera Prabu Brawijaya V yang bernama Ario Damar (Palembang) dan Lembu peteng ( Madegan, Sampang ), anak turunnya bertemu kembali antara Ario Pojok dan Nyai Ageng Bodo. Dari Cicit pasangan inilah yakni Raden Koro yang bergelar Pangeran Tengah menikahi seorang wanita dari Madegan, Sampang atau yang dijuluki Rato Ebhu oleh masyarakat Sampang melahirkan seseorang wangsa Ksatria.  Raden Praseno, dengan gelar Cakraningrat Raja Pertama Madura Barat, sejarah dimulainya kepemerintahan berstruktur yang bertempat di Sampang.

Adegan 1
On Stage           Riuh prajurit ... (suasana perang puputan madura seiring gerak seni pencak para prajurit yang melambangkan kegagahan dan keberanian tanpa lelah sedikitpun  
Suasana            : Lamat-lamat isterument terdengar begitu menyayat hati dengan prolog ungkap keluh kesah hati seorang ibu ratu diiringi penari dengan gerak intuisi menghadirkan simbolik Rato Ebhu. Konstelasi ruang estetika dibentuk dengan ungkap tafsir intuisi seorang rato ebhu dengan segala permasalahannya.
Issue                  : kesedihan seorang wanita yag ditinggal mati seorang suami dan kehilangan anak semata wayangnya karena propaganda dari pihak yang lebih mementingkan tahta dan kekuasaannya.
On stage           : seorang penyanyi mulai membawakan tembang dan lengkingan sebagai playback dari prolog yang dibacakan dan mulai keras ketika prolog selesai dibacakan.
                          Syair tembang :
                          Duhhh ... rama
                          Sossana ate arassa e gherpas kalaban ombak sagere
                          Tangissah ate ta’ bisa e bendhung
                          Aeng mata ngalowa akantah nyaccabbeh talang naleka ojan  ... duh rama
                          Lamon enga’ dha’ ka buwanah ateh se elang ta’ apellang
                          Rassa keddhur ate ta’ a onjhur
                                                Duh ..... rama
                                                Tolang rajhe tolang kene’ serna ta’ ka abes
                                                Rassa kerrong e ate mangghe tak bisa e pellang
                                                Nyomber kalaben aeng mata aghili ta’ ambhet
                                                Maenga’ ka gellonah ate se ta’ a onjhur
                          Ae.......... aaaaa eeeeeeeeee
             Naleka pae’na jhamo ... ngenoma bule ngastete
            Serna compet tak atemmoh .... bungkellah ate
                           
( tembang diiringi gerak tari yang mewakili dan tersimbolikkan dari isi lagu )
On Stage         : enter stage, pemeran rato ebuh >>> ( suasana tenang di temani para abdi dalem dan  korban perang berguguran, begitu banyak tangis para janda dan anak kecil hanya demi kekuasaan, .... )
Rato Ebhu      : duh gusti .... perang puputan ini telah membawa banyak nyawa, keinginan dan ambisi raja agung mataram untuk memperluas daerah kekuasaan untuk mengusir para penjajah berdampak banyak korban yang harus terjadi. Kini, walau mataram berhasil mundur dari tanah madura tapi kenapa firasatku mengatakan lain ? .... firasat itu membuat perasaan aku selalu dirundung kesedihan yang mendalam ... hatiku berkata peperangan ini masih berlanjut bahkan akan membuat tatanan menjadi porak poranda ..... (menerawang )
P Tengah        : isteriku ....... ( secara tiba-tiba muncul dari belakang peringgitan dan semua yang ada di bale istana seraya memberikan sembah) tidakkah kamu melihat Santomerto kesini ?
Rato Ebhu      : (dengan tersenyum ) dimas santomerto sedang mengajak main Praseno berkuda ka’mas.... ada apa gerangan ka’mas menanyakan dimas santomerto ? apakah ada suatu hal yang penting yang harus dibicarakan kakmas ?
P Tengah        : iya ..... aku ingin santomerto menemani praseno karena aku harus konsentrasi pada masalah keinginan sultan mataram yakni ihwal penyerangan kerajaan mataram ke kerajaan madura setelah di perang puputan kita berhasil memukul mundur mereka .....
Rato Ebhu      : ohhh .... gusti yang maha agung ... kalo itu benar berarti firasat aku tak salah lagi kakmas ( seraya menitikkan air mata)
P Tengah        : firasat apa gerangan isteriku ( dengan paras kekagetan dan penuh tanda tanya)
Rato Ebhu      : semalam saya mempunyai firasat yang sangat tidak enak kakmas... firasatku mengatakan suatu hari kanjeng mataram akan mengirim ahli perang andalannya untuk menyerang kerajaan Madura ... dan yang menyedihkan semua tatanan di madura porak-poranda tinggal 1 yang masih utuh tapi aku tak pernah tahu apa gerangan yang satu itu ....
P Tengah        : menurut berapa tilik sandi mengatakan bahwa kanjeng sultan Agung akan mengirim Pangeran juru kitir yang akan memimpin peperangan ini .... dan kita tahu siapa dan bagaimana sang macan mataram itu .... untuk itulah semua kerajaan di madura harus bersatu ....  karena mataram akan mengirim Pasukan perang lebih banyak dari sebelumnya dibawah komando pangeran juru kittir ( hening sejenak)
{ tak berapa lama muncul P Santomerto bersama Raden Praseno ke pendopo istana seraya menghaturkan sembah }
P Tengah           Ohhh .... dimas Santomerto ..... duduklah dimas 
Santomerto      : sembah hormat kanjeng .... ada apa gerangan kanjeng tengah mencari hambaa ?, adakah suatu hal perintah yang penting untuk untuk hamba kerjakan?
P Tengah          : begini dimas santomerto ... berapa tilik sandi mengatakan bahwa kanjeng sultan agung mataram akan menyerang madura kembali, dan yang paling mengejutkan pasukan yang akan dikirim itu dibawah pimpinan pangeran juru kittir. Untuk itu aku ingin kamu tetap disini menggantikan aku mengurus Praseno karena aku harus konsentrasi mengurus kerajaan ini. Aku percaya padamu dimas ... kau akan melakukan yang terbaik buat anak Semata wayangku ...........
Santomerto      : baiklah kanjeng titah kanjeng saya laksanakan .... apalagi Praseno keponakan saya, jadi sudah seharusnya tugas seorang paman juga mengurus dan melindungi keponakannya
P Tengah          : terima kasih dimas pangeran Santomerto ........... terima kasih
Pergi meninggalkan p tengah disaat itu pula p tengah berpikir keras tentang keinginan sultan agung mataram

 ADEGAN 2
(Hening Sejenak sementara R.Praseno asik bermain di dekat sang Rato Ebhu tiba-tiba dua Prajurit masuk ke pendapa menyampaikan sesuatu )
Prajurit           :mohon maaf kanjeng ... diluar ada utusan raja mataram yang ingin menemui kanjeng 
P Tengah        :Suruh dia masuk ...
Prajurit           :baik kanjeng ............. (seraya meninggalkan pendopo mempersilahkan Utusan kerajaan Mataram masuk menemui kanjeng Pangeran Tengah)
(Utusan Mataram  langsung mengambil tempat sementara Rato Ebhu membawa praseno masuk kedalam )
P Tengah        : silahkan duduk kisanak .... berita apa yang akan kisanak sampaikan padaku
Utusan            : maaf beribu ampun Kanjeng Pangeran Tengah ... kedatangan kami kesini tak lain menyampaikan titah dari jumeneng Panembahan Sultan Agung Hanyokrokusumo selaku Raja Mataram, bahwasanya keinginan sri sultan yang ingin sekali memperluas kekuasaannyasehingga mempermudah melawan penjajah dari tanah jawa ini. Untuk itu sri sultan meminta kepada kanjeng untuk menyerahkan kekuasaan keraton ini, upaya ini untuk menghindari jatuhnya banyak korban akibat peperangan dalam perebutan kekuasaan ini.
P Tengah        : Sampaikan pada rajamu, tujuan sultan agung memerangi penjajah VOC sangat benar sekali dan saya pun akan mendukung tapi mengambil kekuasaan kerajaan lain itu tidak bisa dibenarkan karena itu adalah perbuatan semena-mena. Jika rajamu memaksakan kehendaknya maka kami rakyat madura akan lebih memilih peperangan seperti peperangan sebelumnya.... untuk mempertahankan tanah dan darah kami. Tanah kami adalah hidup dan masa depan kami, dan kami akan mempertaruhkan hidup kami untuk mempertahankan tanah kami. Pergilah dan katakan itu pada raja mu.
Utusan            :baiklah kanjeng Pangeran Tengah ... perkataan kanjeng akan kami sampaikan pada sri sultan. Kalau begitu kami mohon pamit  kembali ke mataram
P Tengah        Silahkan (dengan mempersilahkan tangan Kanan)
{ Sepeninggal Utusan Mataram, Pangeran tengah merenung akan nasib rakyatnya, lalu dia memamnggil prajurit serta menugaskan prajurit tsb menemui beberapa adipati untuk merembukkan persoalan peperangan terhadap Mataram  }

Lamat-lamat musik iringan berbunyi menandungkan rasa resah mendalam karena pangeran tengah lebih memikirkan nasib rakyatnya. Sepeninggal dua utusan mataram itu pangeran tengah merenung sementara Rato ebhu berada di belakangnya.
P Tengah        : Mataram telah masuk pada wilayah kekuasaan raja-raja Madura. Sekarang adalah tugas para raja madura untuk mempertahankan haknya. Majapahit telah runtuh tapi nilai serta ajaran yang tertanam takkan pernah pudar dari dari para raja dan rakyatnya. Seandainya sri sultan mataram tidak haus akan kekuasaan pasti kita akan bersama-sama berperang mengusir penjajah belanda dari bumi nusantara ini. Tanpa harus membuat rakyat menumpahkan darah dengan percuma. Tapi apapun itu demi kehormatan rakya madura para raja madura akan terus mempertahankan bumi madura dari kesemena-menaan mataram. Mengapa harus merebut kekuasaan orang lain kalau hanya bertujuan mengusir penjajah di bumi mayapada ini, mengapa harus menumpahkan darah kalau hanya mempunyai tujuan yang sama.... tanah yang kami pijak ini adalah harga diri dan jiwa raga kami ... kami lahir diatas tanah ini dan kami pun mati diatas tanah ini pula ..........
Lengkingan kidung menyayat dan beberapa penari mulai menyemburat diatas panggung dengan gerakan halus kedaton terkadang menggolak sebagai simbolik dari keresahan rato ebhu sementara Pangeran Tengah masuk kedalam seraya Rato ebhu mengungkapkan perihal bathinnya sementara Raden Praseno asik bermain di sekitarnya.
Rato Ebhu      : ya tuhan ..... kasihan para raja madura .... kasihan para Rakyat madura yang harus memikul kesedihan yang mendalam ... berapa banyak lagi para janda yang menangis di bumi prahara ini ... berapa banyak lagi anak-anak kecil menangis karena kehilangan bapaknya akibat peperangan yang akan dimulai ..... tembang pilu ini mulai berkumandang disela-sela genderang perang yang ditabuh dengan begitu kuat nya.... ahhhh aku hanya seorang wanita yang harus tegar ketika suami di medan perang untuk mempertahankan harga diri ..... yang bisa dilakukan perempuan hanyalah berdo’a dan melindungi anak-anaknya dari ketidak nyamanan ini .... tapi apapun itu seorang wanita harus tegar menerima apapun keadaan sebagai garis hidup yang telah ditentukan oleh yang Kuasa .... ya tuhan berilah kami kekuatan ..................
Lamat-lamat musik ilustrasi menghilang diganti musik yang menghentak diselingi riuh para rakyat menandakan genderang perang tlah di tabuh, para kaum ibu mempersiapkan bekal dan berbagai keperluan berperang sementara para kerabat istana berkumpul dan bermusyawarah mencari solusi cara menghadang pasukan mataram yang dipimpin oleh juru kitting ... tampak didalam istana pangeran Tengah, Ratho Ebhu beserta para abdi dalem, R. Praseno, Pangeran Mas, Pangeran Santomerto, Pangeran Blega, dan para adipati – adipati yang lain di balairung istana.

 ADEGAN 3
(Hening Sejenak sementara R.Praseno asik bermain di dekat sang Rato Ebhu tiba-tiba dua Prajurit masuk ke pendapa menyampaikan sesuatu )
Prajurit           :mohon maaf kanjeng ... diluar ada utusan raja mataram yang ingin menemui kanjeng 
P Tengah        :Suruh dia masuk ...
Prajurit           :baik kanjeng ............. (seraya meninggalkan pendopo mempersilahkan Utusan kerajaan Mataram masuk menemui kanjeng Pangeran Tengah)
(Utusan Mataram  langsung mengambil tempat sementara Rato Ebhu membawa praseno masuk kedalam )
P Tengah        : silahkan duduk kisanak .... berita apa yang akan kisanak sampaikan padaku
Utusan            : maaf beribu ampun Kanjeng Pangeran Tengah ... kedatangan kami kesini tak lain menyampaikan titah dari jumeneng Panembahan Sultan Agung Hanyokrokusumo selaku Raja Mataram, bahwasanya keinginan sri sultan yang ingin sekali memperluas kekuasaannyasehingga mempermudah melawan penjajah dari tanah jawa ini. Untuk itu sri sultan meminta kepada kanjeng untuk menyerahkan kekuasaan keraton ini, upaya ini untuk menghindari jatuhnya banyak korban akibat peperangan dalam perebutan kekuasaan ini.
P Tengah        : Sampaikan pada rajamu, tujuan sultan agung memerangi penjajah VOC sangat benar sekali dan saya pun akan mendukung tapi mengambil kekuasaan kerajaan lain itu tidak bisa dibenarkan karena itu adalah perbuatan semena-mena. Jika rajamu memaksakan kehendaknya maka kami rakyat madura akan lebih memilih peperangan seperti peperangan sebelumnya.... untuk mempertahankan tanah dan darah kami. Tanah kami adalah hidup dan masa depan kami, dan kami akan mempertaruhkan hidup kami untuk mempertahankan tanah kami. Pergilah dan katakan itu pada raja mu.
Utusan            :baiklah kanjeng Pangeran Tengah ... perkataan kanjeng akan kami sampaikan pada sri sultan. Kalau begitu kami mohon pamit  kembali ke mataram
P Tengah        Silahkan (dengan mempersilahkan tangan Kanan)
{ Sepeninggal Utusan Mataram, Pangeran tengah merenung akan nasib rakyatnya, lalu dia memamnggil prajurit serta menugaskan prajurit tsb menemui beberapa adipati untuk merembukkan persoalan peperangan terhadap Mataram  }
Lamat-lamat musik iringan berbunyi menandungkan rasa resah mendalam karena pangeran tengah lebih memikirkan nasib rakyatnya. Sepeninggal dua utusan mataram itu pangeran tengah merenung sementara Rato ebhu berada di belakangnya.
P Tengah        : Mataram telah masuk pada wilayah kekuasaan raja-raja Madura. Sekarang adalah tugas para raja madura untuk mempertahankan haknya. Majapahit telah runtuh tapi nilai serta ajaran yang tertanam takkan pernah pudar dari dari para raja dan rakyatnya. Seandainya sri sultan mataram tidak haus akan kekuasaan pasti kita akan bersama-sama berperang mengusir penjajah belanda dari bumi nusantara ini. Tanpa harus membuat rakyat menumpahkan darah dengan percuma. Tapi apapun itu demi kehormatan rakya madura para raja madura akan terus mempertahankan bumi madura dari kesemena-menaan mataram. Mengapa harus merebut kekuasaan orang lain kalau hanya bertujuan mengusir penjajah di bumi mayapada ini, mengapa harus menumpahkan darah kalau hanya mempunyai tujuan yang sama.... tanah yang kami pijak ini adalah harga diri dan jiwa raga kami ... kami lahir diatas tanah ini dan kami pun mati diatas tanah ini pula ..........
Lengkingan kidung menyayat dan beberapa penari mulai menyemburat diatas panggung dengan gerakan halus kedaton terkadang menggolak sebagai simbolik dari keresahan rato ebhu sementara Pangeran Tengah masuk kedalam seraya Rato ebhu mengungkapkan perihal bathinnya sementara Raden Praseno asik bermain di sekitarnya.
Rato Ebhu      : ya tuhan ..... kasihan para raja madura .... kasihan para Rakyat madura yang harus memikul kesedihan yang mendalam ... berapa banyak lagi para janda yang menangis di bumi prahara ini ... berapa banyak lagi anak-anak kecil menangis karena kehilangan bapaknya akibat peperangan yang akan dimulai ..... tembang pilu ini mulai berkumandang disela-sela genderang perang yang ditabuh dengan begitu kuat nya.... ahhhh aku hanya seorang wanita yang harus tegar ketika suami di medan perang untuk mempertahankan harga diri ..... yang bisa dilakukan perempuan hanyalah berdo’a dan melindungi anak-anaknya dari ketidak nyamanan ini .... tapi apapun itu seorang wanita harus tegar menerima apapun keadaan sebagai garis hidup yang telah ditentukan oleh yang Kuasa .... ya tuhan berilah kami kekuatan ................

Adegan  4
Diantara pasebahan salah Satu ruang istana tampak sang Ratu ibu menemani R. Praseno pasebahan. Terjadilah dialong antara seorang anak dan sang ibunda
Rato Ebhu      : Praseno anakku, .... apa yang kamu lakukan
Praseno          : mmmmmm ..... praseno lagi bertanya- pada diri praseno, ibu ratu, ..... kenapa orang-orang itu datang dan ingin menguasai tanah ini bunda ratu. Apa mereka suka berperang dan selalu merebut hak orang lain .....?
Rato Ebhu      anakku Raden Praseno ..... Usia kamu terlalu muda untuk mengutarakan pertanyaan itu anakku .... kamu tahu .... kadang suatu tujuan itu selalu membutuhkan pengorbanan yang besar .... dan nyawa tidak akan menutup kemungkinan menjadi salah satu bentuk pengorbanan terbesar dalam hidup ini.
Praseno          : terus apa yang harus nanda lakukan jika nanda telah dewasa nanti ibu ratu .... nanda ingin sekali bisa berperang dengan mereka untuk mempertahankan hak ibu ratu ... nanda tidak ingin melihat romo dan ibu ratu sedih ..... apalagi praseno nggak akan tahan melihat airmata ibu ratu .....
Rato Ebhu      : ( sembari tersenyum walau pahit getir terasa ) anakku praseno ..... menempuh jalan kekerasan tidak selalu mendapat kemenangan .... kadang mengikuti kemana arus mengalir diantara ketenangan hati akan membuahkan kemenangan. Sabar .... tawakkal .... dan menerima apa yang telah digariskan .... pasti akan mendapatkan kemenangan .... belum saat nya dan juga tidak baik jika kamu menuruti amarah dan dendam ... ibu yakin suatu hari kelak kamu akan menjadi seorang ksatria yang mampu mengangkat harkat dan martabat dirimu dan orang lain .... ibu yakin nak .....
Praseno          :  (tertunduk) titah sabda ibu ratu selalu praseno ingat ....
Rato Ebhu      : oh ya ... bagaimana pelajaran berkuda kamu pada paman santomerto ... apakah kamu sudah bisa membawa kudamu secepat kilat anakku .... ?
Praseno          : alhamdulillah ibu ratu .... praseno tidak lagi mengecewakan paman santomerto ....
Rato Ebhu      : Alhamdulillah ....................... ibu senang mendengarnya ... mmmm sepertinya hari mulai beranjak petang, sana kamu mandi dan pergi mengaji  ...
Praseno          : (sembari beranjak masuk ke dalam ) baik ibu ratu ......


 Musik terdengar lembut ... di tempat lain terjadi dialong antara pangeran santomerto dengan RA. Kumala intan ....... (pergantian setting dilakukan figuran )
Percakapan antara santo merto dan r.a kumala intan
Santomerto    : dinajhu kumala intan ...............
k. intan           : iya ada apa paman ..
santomerto    : ada hal yang ingin aku bicarakan denganmu ...
K. intan           : apa gerangan yang ingin paman bicarakan pada saya...
Santomerto   : ( sambil menghela nafas ) .... aku ingin membicarakan perihal kanjeng pangeran tengah yang tengah menghadapi kemelut bumi madura ini ...dan juga ... masalah praseno yang akan menjadi tanggung jawabku mengasuh dan mengajarkan dia dengan sifat sifat seorang ksatria .... karena aku yakin, kelak anak itu akan menjadi seorang yang besar ...
k. intan           : (tersenyum simpul ) paman saya sudah mendengar semua apa yang terjadi diatas tanah madura ini, dan yang akan terjadi nanti ... kanjeng rato ebhu sudah memberitahu saya sebelumnya .... juga .... perihal firasat rato ebhu, beliau sudah menceritakan semuanya padaku ....
santomerto    : tercenung ) trus apa yang kamu katakan ketika rato ebhu mengatakan itu semua dinajhu .....
k. intan           aku mengatakan padanya kalau hanya untuk mengusir penjajah belanda dari tanah dipa ini mengapa harus memaksakan diri mengambil hak orang lain apalagi dengan cara berperang ....seharusnya panembahan sultan agung mataram lebih bijaksana ... apa tidak ada cara lain yang lebih bijaksana untuk melaksanakan tujuannya .......
santomerto    : ya .... itu yang membuat tidak habis pikir kanjeng tengah akan jalan pikir sultan mataram
k. intan           : peperangan yang akan terjadi ini tentu akan lebih besar dibandingkan peperangan sebelumnya paman .... tidak hanya kaum lelaki yang akan ke medan laga tapi para perempuan juga akan turun ke medan perang. Aku berharap para prajurit madura tidak gentar menghadapi pasukan mataram, tapi jika  para prajurit madura lari dari medan laga maka kematian akan menghampirinya melalui tangan para prajurit perempuan madura .....
santomerto    : para perempuan yang turun ke medan perang tentu juga bisa berguna menolong para prajurit kita di medan perang tentunya ... dinajhu ...
k. intan           : itu sudah tentu paman .... mereka akan memberikan pertolongan pada prajurit yang terluka, akan tetapi ..... (menghela nafas ) .....
santo merto   : akan tetapi apa dinajhu ..............
k. intan           : jika luka itu ada di bagian tubuh depan mereka maka para perempuan ini kan menolong dan mengobati mereka namun sebaliknya, jika luka ada di tubuh belakang mereka maka perempuan ini akan membunuh mereka ....
santomerto    :hmmm .... luka dibelakang tubuh para prajurit itu menandakan lari dari medan laga .....
k. intan           : betul paman ................ seseorang yang bermartabat dan berharkat tinggi adalah orang yang tidak sembunyi dari medan kepedihan .... orang yang bermartabat tidak pernah lari dari sebuah masalah ... dan orang yang bermartabat tidak akan meninggalkan saudaranya dalam kesakitan .....
secara tiba tiba muncul rato ebhu bersama praseno ............
rato ebhu       : benar apa yang kamu katakan itu kumala ....
santo + kumala: (kaget ....) ajuh .............. (seraya memberikan salam dan mengambil tempat ,..... )
rato ebhu       : madura tidak akan pernah takut ... madura takkan pernah gentar walau kematian sekalipun menghampiri ...
k. intan           : tapi apapun itu tetaplah para perempuan dan anak tak berdosa yang akan menjalani penderitaan hidup. Mampukah mereka mengarungi kesepian dalam hidup ? .... mampukah mereka menahan airmata tatkala harus melihat suami dan anak2nya gugur bersimbah darah..... sementara yang lainnya hilang tak tentu arah rimbanya ? .... mampukah para perempuan menanggung derita hidup yang tiada ujung .... mampukah mereka ?? ( tak terasa air mata kumala intan mulai menetes diantara pipi ranumnya )
rato ebhu       : anakku dinajhu kumala ..... aku yakin ketegaran akan mengalahkan perasaan itu .... aku seorang isteri dan ibu dari anak suamiku .... apapun yang terjadi ... prahara hati ini tetap akan terjadi. Peperangan yang akan memakan banyak nyawa tak lagi bisa dihindarkan .... kesedihan akan selalu hadir dalam hidup ini, tapi kesedihan itu bukan untuk diratapi ... karena hidup bukan hanya hari ini .... kita harus bisa belajar dari yang sesudahnya dan juga bisa belajar menerima apa yang akan datang .... (dengan mimik serius tapi tetaplah terpancar keanggunan dan kelembutan seorang rato ebhu )
hening .... secara tiba-tiba santomerto yang dari tadi asik dengan praseno bangkit
santomerto    mohon maaf mbakyu ... kanjeng rato ebhu .... apa gerangan yang membawa kanjeng ketempat ini ... atau mbakyu kanjeng rato ebhu mau menyampaikan sesuatu pada saya ...
rato ebhu       : begini dimas santomerto .... tadi kanjeng pangeran tengah suamiku mengirim pesan untukmu kalau besok siang kamu bisa berkumpul di pendopo agung .... lusa perang sudah dimulai ... semua kerabat istana berkumpul juga para adipati diseluruh madura ... kamu pergilah kesana biar urusan praseno aku yang ngurus ......
santomerto    : baiklah mbakyu saya akan ke sana besok ..............
rato ebhu       : anakku dinajhu kumala intan ........... kamu ikut aku ketaman sari sekalian membantu para ibu ibu yang juga mempersiapkan beberapa keperluan buat perang lusa ....
k. intan           : baiklah kanjeng rato ebhu ...........

lamat-lamat musik terdengar mengiringi kepergian mereka >>> over setting menuju adegan 5

ADEGAN 5
Lamat-lamat musik ilustrasi menghilang diganti musik yang menghentak diselingi riuh para rakyat menandakan genderang perang tlah di tabuh, para kaum ibu mempersiapkan bekal dan berbagai keperluan berperang sementara para kerabat istana berkumpul dan bermusyawarah mencari solusi cara menghadang pasukan mataram yang dipimpin oleh juru kitting ... tampak didalam istana Pangeran Tengah, Rato Ebhu beserta para Abdi dalem, R. Praseno, Pangeran Mas, Pangeran Santomerto, Pangeran Blega, dan para adipati – adipati yang lain di balairung istana. >>>
P tengah         dimas pangeran mas dan dimas santomerto apakah semua persiapan untuk berangkat perang sudah selesai
Pangeran mas & p santomerto : sudah kanjeng ( secara bersamaan )
P tengah         : pangeran blega ... adipati sumenep ... adipati pamekasan ... adipati bangkalan  dan adipati sampang .... apakah pasukan kalian sudah siap untuk berangkat perang ...
Adipati            : siap kanjeng pangeran tengah ........
P santomerto : mohon maaf kanjeng pangeran tengah .... walau prajurit kita berjumlah 6000 tapi kita sudah siap menghadap pasukan mataram yang berjumlah 12 000 .....
P tengah         hmmmmm baiklah .... kita akan atur siasat peperangan ......
Ketika adegan mengatur siasat perang dimulai para aktor lebih memperlihatkan gestur gerak yang diiringi dengan musik gamelan madura “sramaan” dan akhir nya mereka meninggalkan ruangan berangkat menuju peperangan ....... secara tiba-tiba musik berubah lebih UP rasa musik yang di tabuh lebih menderap dengan ketukan cepat dan gagahan >>>Keluarlah para prajurit dalam adegan perang ( penggunaan effect bunyi pedang yang bersentuhan )
Tap perang
Adipati sampang VS mataram 1
Adipati pamekasan VS mataram 2
Santomerto VS mataram 3 ( tidak terbunuh ) seraya menyuruh pangeran mas melarikan diri
Pangeran tengah vs juru kitting ( diselingi beberapa dialog antara keduanya ..... p tengah akhirnya terbunuh )
Rasa gembira mulai terlintas diwajah juru kitting .....
Juru kitting       : pangeran tengah ... lebih baik kau serahkan tampuk kekuasaanmu dibawah mataram daripada banyak korban yang berjatuhan dipihakmu .... kamu lihat banyakdari prajuritmu mati di medan laga .... jika kau tetap bersikukuh aku tidak akan segan-segan membunuhmu ... (dengan suara lantang ...)
P tengah           : ki juru kitting .... jangan kau beranggapan bahwa aku dan seluruh rakyatku akan memberikan tanah ini pada mataram ... tanah ini adalah tanah leluhur ... tanah ini adalah harapan kami ... sudah banyak keringat dan darah kami menetes diatas tanah ini ... kuharap kau dan rajamu yang serakah tahu ... hanya kematian yang bisa memisahkan kami dengan tanah yang kami pijak ini ....
Juru kitting       : baiklah pangeran tengah ... kau sudah menentukan sikapmu ... kini kau bersiaplah untuk mengucapkan selamat tinggal pada tanah ini ...
Juru kitting pun akhir nya menyerang p tengah, maka terjadilah pertarungan antara p tengah dan ki juru kitting hingga pada akhirnya pangeran tengah terdesak dan keris juru kitting menancap di dada pangeran tengah
(senyap hanya musik kematian yang menyayat hati ... pilu ... menggelayut ruang istana. Sang rato ebhu, praseno, radinajhu kumala intan beserta para abdi dalem berhamburan menuju jenazah pangeran tengah ... menangisi kepergian sang raja secara terhormat)
Praseno            : ramaaaaaaaaaaaaaaa ....... (menjerit), mengapa rama tinggalkan aku dan ibu ... (sambil menoleh ke ki juru kitting dan berkata) paman juru kitting kenapa kau bunuh ramaku .... kenapa ............ (sambil menghampiri ki juru kitting dan memukul dadanya ... sementara ki juru kitting kewalahan memegang tangan praseno karena apapun dia yang dihormati dan  diharapkan oleh sultan agung kelak menjadi penguasa baru di tanah madura )
Rato Ebhu        : mataram ... kau bisa bunuh kami semua ... tapi kau tak kan pernah bisa membunuh harga diri dan martabat kami dengan mudah .... katakan pada rajamu kami tak akan pernah diam melihat semua ini .... (perlahan menuju ke jenazah pangeran tengah ) ka’mas ....... aku rela dan ikhlas akan kepergianmu ... kau pergi dengan tubuh gagahmu ... sifat ksatria mu yang akan selalu dikenang oleh rakya madura kelak .... aku bangga dengan kegigihanmu dan aku juga bangga kau sebagai seoranng suami bagiku dan ayah dari anakku ... ka’masss, aku bersumpah suatu saat kau akan tersenyum ketika melihat anakmu kelak akan menjadi penguasa baru tanah madura ... tanah dimana keringat dan tetesan darah mu membasahi ....
Juru kitting       : beribu ampun kanjeng rato ebhu ..... sudah banyak peperangan yang hamba menangkan ... banyak tanah yang hamba telah taklukkan ... mohon maaf hamba tidak akan pernah bisa melihat airmata seorang ibu mengalir di depan hamba .... untuk itu kami akan membawa Raden Praseno beserta pangeran santomerto juga 1000 rakyat madura ke mataram sebagai bukti bahwa madura telah kami taklukkan dan dibawah kekuasaan kerajaan mataram .....
Rato Ebhu        : jangan .... jangan kau bawa satu-satunya kilau permata kehidupanku ... aku mohon jangan bawa tautan hatiku ....
Tapi juru kitting tidak lagi menghiraukan ucapan rato ebhu, dia tetap membawa  raden praseno dengan cara digotong walau prseno kecil itu meronta sementara sang rato ebhu trus melarang dengan mimik mengiba dan memelas pada juru kitting
Akhirnya dibawalah raden praseno ke mataram karena sesuai janji sultan agung kelak prasenolah yang akan menjadi penguasa madura barat dengan gelar Tjakraningrat
Hari demi hari rato ebhu menjalani dengan perasaan tegar walau kerinduan kepada anak semata wayangnya tak terbendung lagi >>>> nyanyian kidung terdengar sayup menapaki penantian rato ebhu akan raden praseno apalagi setelah tahu praseno telah diambil anak angkat sultan agung mataram dan di kawinkan dengan adik sultan, ada secercar kebahagiaan di dati seorang rato ebu ... apalagi setelah prseno diangkat oleh sultan agung sebagai raja di madura barat dan dikembalikan lagi ke pangkuan seorang ibu
Prolog rato ebhu :
Hari demi hari aku jalani dengan perasaan tegar
Walau cahayaku tak terlihat aku masih bisa merasakannya walau perih
Keyakinanku selalu ada
Surya akan selalu terbit esok
Aku bersumpah diantara runtuhnya pilar pilar tanah ini akan muncul pilar baru yang kokoh
Naga kapanah titis Ing Midi .........................................
(tampak pada backlite praseno besar sedang menjalani proses pengukuhan sebagai raja madura )






Karya Cipta Lagu Daerah Jawa Timur 2013



Setelah melalui proses seleksi naskah dan partitur dari team musik dan seni pertunjukan kami akhirnya kami pun lolos melenggang ke tingkat regional. beberapa persiapan dan latihan kami laksanakan selama 2 minggu karena waktu yang diberikan kepada kami begitu minim ... huffttt, tapi apa boleh buat :D
tema " Sate" menjadi inspirasi kami dalam membuat karya lagu ini, salah satu brand kuliner madura yang sudah dikenal hingga manca negara. pemilihan notasi pun hingga alat musik yang digunakan menjadi pertimbangan kami karena ini pengalaman kami yang pertama di festival karya lagu daerah. tidak hanya itu team penari sudah siap dengan choreography nya dengan gaya bebas tapi kental dengan idium gerak tari madura diselingi teaterikal tematik.
properti yang kami gunakan ogohan lapak sate yang dipikul and yang lebih heboh lagi kami berhasil merayu salah satu Kasi SDM kebudayaan menjadi figuran penjual satenya hahahhahahaahah ..... :D. ok kita liat beberapa snapshoot hasil karya kami yang di pentaskan di Taman Krida Malang jalan Soekarno Hatta jawa timur >>>>

Seni Pertunjukan Indonesia Melintas Batas



Seni Pertunjukan Indonesia Melintas Batas
Matthew Isaac Cohen; Alessandra Lopez Y. Royo; Laura Noszlopy
Terjemahan: Noor Cholis
Dimuat di: Indonesia And Malay World, Volume 35, Issue 101 Maret 2007, h. 1 – 7.


Edisi kali ini menyajikan semacam rangkaian tulisan historis tentang teater, tari, dan musik dari Indonesia, sejak awal abad ke-20 hingga saat ini. Semua artikel yang dimuat berkeyakinan bahwa abad lalu adalah periode perubahan besar bagi seni pertunjukan modern maupun tradisional, yang turut mencuat bersama kemajuan dalam komunikasi dan transportasi dan keterbukaan Indonesia bagi kapitalisme multinasional.
Kendati Indonesia adalah negara bahari yang sangat tersohor dengan jalur lalu lintas barang, ide dan manusia, seni pertunjukannya sering dianggap statis. Seni pertunjukan umumnya dipandang mengakar di daerah atau pusatpusat produksi tertentu, terpatri dalam ikatan-ikatan tak tertembus genre dan berbagai tatanan patronase tradisional, dikungkung oleh larangan-larangan tradisional dan penghormatan terhadap leluhur. Tradisionalisme semacam itu, setidak-tidaknya untuk sebagian, adalah warisan kesarjanaan Belanda yang cenderung melihat seni pertunjukan Indonesia dengan mengasumsikan kepastian dan ketaatan penuh pada aturan-aturan yang tak bisa diganggu gugat.
Para penulis seperti Jaap Kunst, Jacob Kats, dan Th. B. van Lelyveld menafsirkan musik, tari, serta teater Jawa dan Bali sebagai kesinambungan masa lalu Indis kuno Indonesia barat. Serta merta mereka menggolongkan persilangan dan pertunjukan modern sebagai penyimpangan dan kemerosotan. Prasangka demikian juga dipegang dan diusung elite kolonial bumiputra, yang pada gilirannya melembagakan wacana tentang pelestarian warisan yang terus memunculkan kecemsejak awal abad ke-20 hingga saat ini. Semua artikel yang dimuat berkeyakinan bahwa abad lalu adalah periode perubahan besar bagi seni pertunjukan modern maupun tradisional, yang turut mencuat bersama kemajuan dalam komunikasi dan transportasi dan keterbukaan Indonesia bagi kapitalisme multinasional.
Kendati Indonesia adalah negara bahari yang sangat tersohor dengan jalur lalu lintas barang, ide dan manusia, seni pertunjukannya sering dianggap statis. Seni pertunjukan umumnya dipandang mengakar di daerah atau pusatpusat produksi tertentu, terpatri dalam ikatan-ikatan tak tertembus genre dan berbagai tatanan patronase tradisional, dikungkung oleh larangan-larangan tradisional dan penghormatan terhadap leluhur. Tradisionalisme semacam itu, setidak-tidaknya untuk sebagian, adalah warisan kesarjanaan Belanda yang cenderung melihat seni pertunjukan Indonesia dengan mengasumsikan kepastian dan ketaatan penuh pada aturan-aturan yang tak bisa diganggu gugat.
Para penulis seperti Jaap Kunst, Jacob Kats, dan Th. B. van Lelyveld menafsirkan musik, tari, serta teater Jawa dan Bali sebagai kesinambungan masa lalu Indis kuno Indonesia barat. Serta merta mereka menggolongkan persilangan dan pertunjukan modern sebagai penyimpangan dan kemerosotan. Prasangka demikian juga dipegang dan diusung elite kolonial bumiputra, yang pada gilirannya melembagakan wacana tentang pelestarian warisan yang terus memunculkan kecem
Maka wajar belaka bila para seniman modern seperti Raden Mas Jodjana (1895-1972) dianggap tidak autentik karena penafsiran kelewat “individualistis” mereka atas tradisi (Lelyveld 1931: 38) yang bakal mengkompromikan kemurnian. Selain itu, seni persilangan seperti keroncong atau ketoprak cuma sedikit diperhatikan. Baru belakangan saja para sarjana mulai menggali sejarah seniman keliling dan bentuk-bentuk seni keliling guna memaparkan dan menganalisis proses inovasi, hibridisasi dan penyuburan silang.
Edisi kali ini memandang tradisi seni pertunjukan Jawa dan Bali berada dalam perubahan ajek dan bergerak, dipengaruhi oleh pengadopsian dan pengalihan serta penafsiran ulang radikal yang dilakukan seniman dan intelektual, Indonesia maupun non-Indonesia. Para penulis edisi ini menawarkan wawasan tentang para seniman pertunjukan, agen, lembaga-lembaga yang berkepentingan, penulis, dan kelompok-kelompok seniman pertunjukan yang bertujuan melahirkan wawasan baru tentang bagaimana Jawa dan Bali dipahami di Indonesia maupun luar negeri. Tidak menampilkan pengertian-pengertian yang diterima dari masa lalu, edisi ini menyatakan bahwa seni pertunjukan Indonesia di berbagai daerah adalah sebuah proses yang terletak di antara lokal, supralokal dan global – yang harus dinegosiasikan di kalangan seniman, agenagen budaya, krisiti, penonton, dan para peserta lain di arena budaya. Model kesarjanaan dan pendekatan terhadap seni pertunjukan Indonesia
Pendekatan dominan terhadap studi budaya ekspresif Indonesia, hingga barubaru ini, adalah antropologi simbolis dari mendiang Clifford Geertz. Kelemahan model ini sudah banyak dimaklumi, tetapi kedudukan terhormat Geertz sebagai intelektual publik dan peredaran luas tulisan-tulisannya dalam ilmu sosial dan humaniora telah berhasil menjalankan fungsi sebagai modal akademis yang mengesahkan banyak sekali studi tentang budaya ekspresif Indonesia. Menurut para pengikut Geertz, seni pertunjukan dan bentuk-bentuk lain pergelaran budaya (termasuk sabung ayam Bali yang terkenal itu) harus dilihat sebagai jendela-jendela istimewa untuk memahami pandangan dunia dan etos kelompokkelompok etnis tertentu dengan nilai dan pemahaman, kebiasaan dan norma tersendiri. Antroplog-pengamat didorong untuk “membaca [teks pertunjukan] menurut mereka yang berada di tempat semestinya” (Geertz 1973: 452).
Pendekatan ini menekankan batas antara pengamat dan objek pengamatan dan menyebabkan diterimanya klaim-klaim pemilikan nasionalis Indonesia atas budaya Indonesia, menganggap beberapa varian pertunjukan sebagai “kebisingan” tidak penting dalam sebuah teks esensial yang bisa “dibaca” dalam semua pertunjukan oleh pengamat di tempatnya sendiri. Pendekatan kedua terhadap seni pertunjukan Indonesia, yang diterima luas, didasarkan pada ideal bi-musikalitas etnomusikolog Mantle Hood. Di bawah bimbingan Jaap Kunst di Amsterdam, komponis Mantle Hood didorong untuk belajar memainkan musik gamelan klasik guna memahami produksi musik dari sudut pandang orang dalam. Dalam sebuah esai klasik, Hood menyamakan proses belajar memahami dan memproduksi sebuah musik baru dengan mempelajari sebuah bahasa baru, tujuannya adalah penguasaan bi-musikalitas seperti dalam bilingualisme (Hood 1960). Pemahaman orang dalam tentang penampilan musikal memungkinkan diperolehnya paparan lebih akurat tentang proses musikal, prinsip-prinsip improvisasi dan permainan kelompok, juga menyediakan penghargaan baru bagi keterampilan teknis dan kepiawaian artistik para seniman empu.
Bagaimanapun juga, metafora bi-musikal itu banyak dijadikan topik diskusi dan sasaran kritik. Hood dan murid-muridnya percaya bahwa musik asing harus diajarkan lewat “kelompok studi pertunjukan” yang bertujuan meniru apa adanya repertoar tradisional ensambel musik dunia; tetapi para etnomusikolog yang lebih belakangan mendorong improvisasi dan kreasi musik baru bagi ensambel tradisional.
Sebuah perspektif yang terkait dengan itu adalah model kajian teater Asia yang berhubungan sangat erat dengan program teater Asia di Universitas Hawaii. Pendekatan ini bertujuan melegitimasi pengkajian “berbagai bentuk teater Asia dengan pendekatan pada tataran yang sama dengan teater di Barat” (Brandon 1989: 26). Para penganut pendekatan ini juga didorong mengikuti pengajaran langsung dalam teater tradisional, selain itu Hawaii serta lembagalembaga lain yang menganut pendekatan itu secara teratur mendatangkan “seniman-seniman guru” untuk melatih siswa seniman panggung. Mode kajian khas Hawaii adalah kajian genre di mana sebuah bentuk teater tradisional dipelajari sebagai sebuah sistem produksi dengan perhatian pada repertoar pementasan; pembagian peran panggung; dan suara, musik, gerak, busana, dan tata panggung. Umumnya perhatian juga diberikan pada kritik, keberterimaan dan peran penonton, serta biografi para seniman pertunjukan terkemuka. Model ini sangat penting dalam upaya mencari dan memaparkan genre pertunjukan yang dicermati yang tanpa itu hanya sedikit jejak fisik yang tersisa. Tetapi model ini tidak terjamah kritik sistematis, walaupun beberapa kalangan melihat kecenderungan para pendukungnya mengidealkan genre sebagai mode produksi. Pendekatan terhadap seni pertunjukan ini terutama penting di Indonesia berkat penerapannya di Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, pada program Pengkajian Seni Pertunjukan dan Seni Rupa Ketiga pendekatandi atas lebih menekankan analisis sinkronis ketimbang analisis diakronis, dan cenderung mengidealkan seni-seni pertunjukan tertentu sebagai lebih “autentik” bagi tradisi ketimbang seni-seni lainnya.
Ada beberapa pendekatan dan model lain yang lebih dinamis. Sebuah pendekatan lebih mutakhir pada seni pertunjukan Indonesia lahir dari disiplin akademis – ada yang menyebut anti-disiplin – kajian seni pertunjukan dan bidang-bidang yang secara longgar dikaitkan dengan antropologi teater yang didirikan Eugenio Barba, yang memusatkan perhatian pada eksplorasi pertunjukan antarbudaya lewat praktek. Berbagai pengkajian seni pertunjukan berkembang pada akhir 1970-an dan awal 1980-an di ceruk antara teater dan antropologi. Sejumlah teoretisi awal kajian seni pertunjukan, termasuk Richard Schechner, Phillip Zarrilli, dan John Emigh, pada mulanya bertolak ke Asia untuk mempelajari seni pertunjukan Asia demi memperkaya teknik-teknik kreasi teater mereka, dan kemudian menyadari bahwa seni pertunjukan Asia in situ punya daya tarik inheren sendiri dan segi-segi menarik yang layak dieksplorasi. Kajiankajian seni pertunjukan berguna bagi de-eksotisasi seni pertunjukan Indonesia dengan menunjukkan kesamaan dengan praktek-praktel kultural dari balahan lain dunia. Ia merayakan keanekaragaman dan varietas seni pertunjukan, menghargai gaya kultural maupun individual; dan melalui hubungannya dengan antropologi teater ia merangsang eksplorasi berbasis praktek idiom-idiom teatrikal Indonesia. Namun, kajian seni pertunjukan sejak 1990-an tidak begitu memperhatikan seni pertunjukan Indonesia (dan non-Euro-Amerika lainnya), melepaskan diri makin jauh dari ranah antropologi dan dari ketidakpastian teoretis antropologi teater, dan bertemu dengan berbagai kajian aneh dalam reformulasi performatifnya.
Tentu bukan hanya model pengkajian seni pertunjukan dari Schechner dan Emigh yang diharapkan untuk mengkaji seni pertunjukan Indonesia. Karya pionir A. L. Becker (1979) tentang wayang kulit Jawa mengilhami sekelompok kecil sarjana namun berpengaruh untuk meninjau tradisi seni verbal Indonesia sebagai filologi lisan, yang dengan itu anasir masa lampau digali dan disuarakan untuk masa kini. Dengan demikian para seniman desa dipandang sebagai penafsir yang berupaya mengurai kerancuan dan ambiguitas masyarakat kontemporer dengan strategi-strategi artistik warisan leluhur yang terbukti ampuh. Sehingga penafisran bukan melulu hak istimewa sarjana-pengamat, melainkan juga milik seniman-pelaku.
Pada tahun-tahun belakangan terdapat kekecewaan mendalam karena tidak adanya pergumulan konsisten dengan epistemologi tubuh, di kalangan mereka yang menggeluti kajian seni pertunjukan Indonesia – dan lebih khusus lagi kreasi pertunjukan tari – dan nihilnya kesarjanaan yang berpijak pada fisikalitas tubuh, yang mampu memahami tubuh menari sebagai produsen budaya-politik. Pengkajian tari adalah bidang disiplin yang bermula pada tahun 1990-an dari artikulasi Susan Leigh Foster tentang pengertian ketubuhan dan perwujudan pengetahuan serta hubungannya dengan tindakan menulis. Foster memperkenalkan kesarjanaan yang memandang kreasi tari sebagai “sebuah bentuk teorisasi, yang menjiwai dan dijiwai oleh proses penjabaran signifikansi tubuh” (Leigh Foster 1995: 16). Hanya soal waktu sebelum pendekatanpendekatan demikian diminati dan digarap ulang untuk meneliti kreasi seni pertunjuan Indonesia. Historisitas ditimbang ulang Tulisan-tulisan yang disajikan dalam edisi ini memang tidak homogen tetapi semuanya menganut, dalam kadar sedikit atau banyak, sebuah pandangan tentang seni pertunjukan sebagai lahan di mana ambiguitas marak dan makna serta signifikansi selalu terbuka untuk digugat.
Matthew Isaac Cohen berpendapat bahwa paruh pertama abad ke-20 menandai titik puncak pemanfaatan citra Jawa dan Bali oleh kalangan Orientalis di pentas internasional. Pementasan Jawa berbeda dari pemanfaatan pra-abad ke-20 itu di mana karakter Jawa diwujudkan dan dihayati di panggung maupun di luar panggung. Orang Indonesia, Eurasia, Eropa, dan Asia non-Indonesia (termasuk seniman Jepang dan India) terlibat dalam kegiatan ini. Era ini berakhir dengan kemerdekaan Indonesia, ketika negara Indonesia memperoleh hak eksklusif untuk memantau penampilan konstituen-konstituen etnisnya di luar negeri melalui misi dan diplomasi kebudayaan. Neil Sorrell mempertanyakan pemanfaatan, oleh para komponis Euro Amerika, model-model Jawa ketika menciptakan karya untuk gamelan, karena hal itu sering menimbulkan kesalahpahaman serius menyangkut konsep-konsep musikal yang berbeda secara fundamental, misalnya intonasi. Lebih baik membiarkan aksen lokal muncul tanpa berusaha “meniru identitas dari tempat lain,” dan dia memelopori proses pelokalan ini dengan mendiskusikan Misa Gongso, yang dia gubah untuk khalayak York berdasarkan Gamelan Sekar dan mempergelarkannya di Katedral York pada tahun 2005.
Alessandra Lopez y Royo berfokus pada dua balet, The Prince of Pagodas yang diciptakan Cranko pada 1957 dan dipentaskan ulang oleh MacMillan pada 1989 serta Gong karya Morris yang dipentaskan pertama kali tahun 2002. Melalui sebuah diskusi tentang karya-karya tari itu berikut musiknya, masing-masing oleh Benjamin Britten dan Colin McPhee, Royo meninjau ulang makna-makna yang saling bertentangan dari pengaruh dan pemanfaatan kultural, serta makna transformasi dan terjemahan. Dengan tinjauan itu Royo memunculkan tarik ulur identitas seksual lewat penggunaan gamelan sebagai indikator gay di kalangan komponis Amerika Utara abad ke-20, dalam deretan yang dimulai dari McPhee hingga Lou Harrison serta para penggubah terkemudian, dan di dalamnya nampaknya terdapat komponis Inggris Britten mengingat kedekatan hubungannya dengan McPhee.
Michael Bodden menerapkan sebuah perspektif sosiologis untuk mengkaji sejarah pasca-kolonial teater seni nasional Indonesia. Dia menganalisis
pemanfaatan modern tradisi sebagai “sumber daya langka” (cf. Appadurai 1981) yang dinegosiasikan dalam berbagai pertentangan antara para birokrat kebudayaan dan pejabat pemerintah berlatar belakang aristokrat dengan seniman-seniman berkecenderungan populis. Sementara agen-agen negara memperlakukan tradisi sebagai sesuatu yang statis dan tertata, para seniman merayakan kualitas tak terbelenggu dan multivokal seni rakyat. Barbara Hatley menawarkan studi kasus grup teater Indonesia kontemporer, Teater Garasi, yang secara eksplisit menggeluti isu-isu identitas yang bertentangan – apa artinya menjadi benar-benar Jawa pada suatu waktu ketika pengertian “kejawaan” digugat. Mark Hobart mengangkat serangkaian pertanyaan penting berkenaan dengan bagaimana pertunjukan tari Bali sejauh ini disalahpahami, sebagai sebuah entitas yang sepenuhnya ahistoris, terserap dalam masa lalu prakolonial imajiner. Mengapa kita tidak mencoba mengkontekstualkan dan menghistoriskan itu dengan meletakkannya bersama seni pertunjukan India, Cina dan Jepang, menggeluti studi kritis seni pertunjukan lintas budaya, modernitas dan pascakolonialitas?
Ulasan-ulasan lugasnya tentang bagaimana warisan seni pertunjukan Bali dikonstruksi oleh orang luar dengan bantuan orang-orang Bali sendiri tidak cuma relevan bagi Bali melainkan juga bagi seni pertunjukan Asia seumumnya, menunjukkan perlunya menyegarkan penelitian pada abad ke-21. Margaret Coldiron membahas sebuah pertunjukan mutakhir di mana anasir teatrikal Indonesia dan Yunani klasik dipadu dan dijajarkan. Dia menyajikan kasus bagi model yang lebih dinamis produksi teatrikal lintas budaya di mana budaya-budaya sumber dan sasaran berdampingan dalam keseimbangan dinamis.
Laura Noszlopy mengeksplorasi perubahan-perubahan dalam cara memandang agensi seniman pertunjukan Bali, ketika bidang kerja mereka menjadi lebih profesional. Dia berpendapat bahwa sekalipun ada sejarah impresario dalam bisnis seni pertunjukan Bali, “kerja lepas” merupakan modus
operandi baru bagi banyak seniman kontemporer.
Artikel-artikel dalam edisi ini pada mulanya disajikan sebagai makalah dalam konferensi-konferensi di London dan Exeter pada April 2005. Salah satunya adalah diskusi panel tentang pertunjukan tari dan musik Indonesia dalam konteks transnasional yang diselenggarakan oleh Alessandra Lopez y Royo dan Matthew Cohen di British Forum for Ethnomusicology dan konferensi AHRB Research Centre for Cross-Cultural Music and Dance Performance bertema “Pertunjukan Musik dan tari: Pendekatan Lintas Budaya”. Yang lainnya adalah diskusi panel tentang seni pertunjukan Asia Tenggara berbasis tradisi yang diselenggarakan oleh Matthew Cohen dan Laura Noszlopy dalam konferensi ASEASUK ke-22. Banyak peserta dan sebagian besar pemikiran di balik panel-panel itu saling bersinggungan, membangkitkan dialog dan diskusi.
Konferensi yang berlangsung di Inggris itu mengarahkan berbagai presentasi ke Jawa dan Bali, walaupun ada pula kontribusi penting tentang karya pertunjukan di Hawaii dan Australia dari teater rakyat randai Sumetara Barat yang disampaikan oleh Kirstin Pauka dan Indija Mahjoeddin. Minat yang nampak jelas selalu lebih tertuju pada Jawa dan Bali ketimbang wilayah-wilayah lain nusantara yang terpancar dari artikel-artikel dalam jurnal edisi ini perlu dikomentari. Alasannya untuk sebagian adalah kebetulan semata, sebab tidak semua yang hadir bisa urun rembug. Kalau saja mereka bisa, tentu itu bakal menyajikan ragam lebih banyak dan pendekatan lebih berimbang. Tetapi memang ada ketimpangan historis yang tak terbantahkan, mengakar dalam fakta bahwa kesarjanaan tentang Jawa dan Bali secara tradisional jauh lebih mapan di berbagai universitas, bisa dikatakan terikat erat dengan kepentingan-kepentingan kolonial dan neo-kolonial, ketika fakultas atau jurusan yang relevan didirikan. Bertolak dari kenyataan ini, kelompokkelompok pengkajian seni pertunjukan universitas dan percabangan mereka ke proyek-proyek seni komunitas terkait seperti pementasan gamelan dan ensamble tari Indonesia di Barat memastikan lebih mudah diaksesnya genre-genre Jawa dan Bali, dan dengan demikian mendatangkan pendanaan lebih besar sehubungan dengan beasiswa, pertukaran dan lembaga-lembaga penyokong. Seni pertunjukan Jawa dan Bali, berkat keunggulan historis keduanya, juga lebih mudah dipasarkan bagi pengajaran mahasiswa tingkat sarjana dan lokakarya publik.
Menyangkut artikel-artikel di sini, banyak yang mengangkat persoalan etika. Siapa yang berhak mengklaim mewakili tradisi Jawa atau Bali? Apakah salah menafsirkan tarian atau musik atau mitos sebuah kelompok di luar kelompok Anda sendiri? Apa salah memasukkan makna baru dalam materi yang dipungut? Apakah seni pertunjukan Indonesia mesti didasarkan pada tata laksana sponsor tradisional, atau apakah perubahan sosial membuka kemungkinan-kemungkinan baru?
Salah satu isu yang tidak secara khusus diangkat dalam tulisan-tulisan edisi ini, padahal sangat penting dan menggelisahkan, adalah eksploitasi ekonomi terhadap seniman-seniman pertunjukan Indonesia dan Asia lainnya yang diundang untuk ambil bagian dalam pergelaran berskala besar di Eropa dan Amerika. Ditampilkan sebagai upaya menjadi beragam, global dan transnasional, produksi-produksi artistik semacam itu – sering menafsirkan ulang karya-karya klasik berumur panjang dan sangat disukai dalam pakem opera dan drama Eropa – bertumpu pada keterampilan dan kemahiran penari dan musisi pendukung Indonesia bagi kesuksesan mereka di hadapan audiens jemu, terutama kelas menengah, yang tak henti-henti haus akan kebaruan.  Pertunjukan mengesankan semacam itu, sering kali berlangsung tak lebih dari beberapa hari, menutupi realitas pahit buruh murah, dengan per diem yang dikatakan sebagai upah penuh dan akomodasi mengenaskan para artis. Perlakuan terhadap mereka yang datang dari luar bertolak belakang tajam dengan yang diberikan kepada seniman setempat yang dinaungi serikat buruh. Lepas dari kegusaran yang barangkali dirasakan orang saat menyadari bahwa skenario ini terjadi di Eropa atau Amerika abad ke-21, dan bukan di masalampau Dickensian, orang perlu tahu lebih gamblang kaitan antara pertunjukan, politik dan ekonomi.
Seni pertunjukan adalah salah satu industri budaya zaman kita dan dalam menelaah isu-isu transnasionalisme tentu kita tidak bisa berkutat semata-mata, dalam gaya modernis, pada isu-isu tentang muatan estetis, tercerabut dari politik keseharian. Watak sepenuhnya historis semua kajian dalam edisi ini memperlihatkan bahwa sebuah sejarah komprehensif seni pertunjukan Indonesia sangat dibutuhkan. Ada jalinan rumit, namun tidak terartikulasikan, antara pengembaraan tari di Eropa yang dilakukan penari Jawa Raden Mas Jodjana dan penari Bali Ni Made Pujawati. Kamampuan Kadek Suardana mencukupi hidup sebagai freelancer ada hubungannya dengan jaringan pertunjukan transnasional mutakhir maupun wisata budaya era kolonial di Bali dan representasi Bali pra-kemerdekaan di pentas dan layar internasional. Edisi ini
menekankan bahwa setiap sejarah penting seni pertunjukan Indonesia harus memperhitungkan pula sumbangan yang diberikan semua orang Indonesia (termasuk Cina dan Eurasia) maupun Eropa, Inida, Arab, dan lain-lain. Batasbatas Indonesia sebagai sebuah entitas geopolitik terbentuk sebagai buah dari politik kolonial, tapi lapangan kebudayaannya selalu agak lebih luas (dan juga agak lebih kecil) ketimbang batas-batas itu. Daya tarik seni pertunjukan terletak dalam kemampuannya mengundang pemikiran, membangkitkan diskusi, dan memfasilitasi relasi sosial. Penyajian esai-esai pada konferensi itu dan pengerjaan ulangnya menjadi artikel mewujudkan semua itu, dan diharapkan penerbitan ini akan memungkinkan esaiesai itu berfungsi demikian.



  • Matthew Isaac Cohen, dalang wayang, pakar seni pertunjukan Asia, pengajar di Royal Holloway Universitas London.
  • Alessandra Lopez Y. Royo, pakar seni pertunjukan dan sejarah budaya Asia Selatan dan Tenggara, pengajar Universitas Roehampton London.
  • Laura Noszlopy, peneliti seni pertunjukan transnasional Indonesia, pengajar di Royal Holloway Universitas London.
  • Noor Cholis, penerjemah lepas. Bisa dihubungi di 0856-289-6924 dan di kompor_jaya@yahoo.com

Rujukan

  1. Appadurai, Arjun (1981). The past as a scarce source. Man 16: 2, h. 201- 219 – (New Series) [rujukan silang]
  2. Becker, A. L. (Becker, A. L. dan Yengoyan, A. A. editor) Text-building, epistemology, and aesthetics in Javanese shadow theatre. The Imagination of reality: Essays in Southeast Asia coherence systems h. 211-244. Ablex Publishing Corporation, Norwood, NJ.
  3. Brandon, James R. (1989) A new world: Asian Theatre in the West Today. TDR 33: 2, h. 25-50. [rujukan silang]
  4. Geertz, Clifford (1973) The interpretation of cultures, Basic Book, NewYork
  5. Hood, mantle (1960) The challenge of ‘bi-musicality’. Ethnomusicology 4: 2, h. 55-59. [rujukan silang]
  6. Foster, S. Leigh (Foster, S. Leigh, ed.) (1995) Choreographing history. Choreographing history, h. 3-21. Indiana University Press, Bloomington.
  7. van Lelyveld, Th. B. De Javaansche danskunst Van Holkema & Warendorf, Amsterdam